Ronsen's Blog

Aplikasi Chat Populer di Android

Saturday, November 18, 2017



Ada banyak aplikasi chat (baik dalam bentuk teks ataupun video) di smartphone Android. Aplikasi-aplikasi berikut dapat diunduh dengan gratis melalui Play Store. Berikut daftarnya setelah kukompail dari daftar aplikasi trending di Play Store.
  1. WhatsApp
  2. Messenger
  3. BBM
  4. Line
  5. Google Duo
  6. Messenger Lite
  7. imo
  8. Telegram
Ada beberapa aplikasi urutannya sangat jauh di bawah sehingga tidak kumasukkan dalam dafar di atas, yaitu:
  1.  Wechat
  2. Google Allo
  3. BeeTalk
Semua aplikasi di atas sudah pernah kucoba kecuali Google Duo. Menariknya aplikasi Google Duo ini belum pernah kudengar sebelumnya tetapi masuk dalam daftar populer di Android. Mungkin suatu saat aku akan mencoba menggunakan aplikasi ini setelah ada teman yang juga menggunakannya. Kalau tidak, aku akan ngobrol sama siapa donk?

Setuju dengan Pemblokiran Telegram dan Media Sosial Lainnya

Saturday, July 15, 2017

Tangkapan layar dari Bisnis.com

Sekarang aku mengerti alasan dibalik pemblokiran Telegram, aplikasi chat buatan  Pavel Durov. Radikalisme memang sangat sulit diberantas terutama di dunia maya, maka dengan alasan yang sama, aku pun setuju dengan rencana pemblokiran Facebook, Twitter, Instagram, dan Youtube oleh Menkominfo.

Selain itu perlu dicermati, dengan diblokirnya media sosial, pengguna akan menyadari pentingnya bagi kita saling bertatap muka saat membicarakan hal-hal apapun itu termasuk topik remeh temeh lainnya. Tidak sekedar menghabiskan waktu berlama-lama di depan layar hape atau laptop. Pamer foto jalan-jalan, makan makanan yg enak, pamer pacar baru, dll, yang jelas-jelas membangkitkan rasa iri hati bagi orang lain.

Pengguna yang menggunakan media sosial untuk berjualan, harusnya lebih berpikir kalau platform tersebut bukan tempat yang tepat untuk sarana e-commerce. Kalau memang mau berbisnis, gunakan layanan yang tepat. Jika tidak mengerti, kembali seperti dulu, buat toko atau menyewa kios misalnya. Kalau tidak punya modal, tidak usah coba-coba berjualan online. Mau berbisnis kok coba-coba? Mending jadi pegawai kantoran aja atau daftar jadi PNS mumpung lagi buka lowongan. Dengan begini kita kan tidak capek-capek bermimpi menjadi pemain ekonomi digital, se-Asia Tenggara pula?

Jadi kalau dipikirkan matang-matang, pemblokiran Telegram dan rencana pemblokiran media sosial lebih banyak manfaatnya daripada kerugiannya. Ini juga menyangkut kedalautan NKRI di dunia maya. Dengan begini bangsa kita tidak lagi dipandang sebelah mata oleh negara lain. Karena kita adalah negara satu-satunya yang berhasil membungkam terorisme dan menangkal radikalisme dengan melakukan pemblokiran. Semudah itu!

Aku yakin setelah pemblokiran ini dijalankan, teroris akan kebingungan mencari platform yang cocok buat mereka. Entahlah suatu saat mereka membuat app sendiri atau mungkin mencari cara untuk menyembunyikan pesan online dengan cara yang lebih halus. Sungguh membuat mereka kerepotan. Kita tahu betapa jagonya mereka menumbuhkan rasa simpati terhadap aksi-aksi sadis mereka tapi kalau dihadapkan dengan internet, mereka benar-benar buta, tidak tahu apa-apa.

Tagar di Instagram Sudah Tidak Relevan Lagi

Thursday, July 13, 2017

Logo Instagram

Beberapa waktu yang lalu, tanda pagar (tagar) atau hashtag sangat penting di Instagram. Dengan tagar ini foto yang kau upload akan muncul di laman yang disukai oleh orang-orang yang memiliki kesamaan ketertarikan.

Bagi mereka yang mengerti cara bermain Instagram, pasti tahu ada aplikasi yang memanfaatkan tagar-tagar tersebut. Makanya dulu sering terlihat tagar yang sangat banyak bahkan tidak relevan dengan foto yang diunggah. Fotonya tentang makanan tapi tagarnya mungkin saja landscape atau bahkan senja. Tiba-tiba saja dengan cepat foto tersebut mendapat likes dari antah berantah.

Awalnya aku heran kenapa ada orang menyukai fotoku walaupun dia tidak mengikuti akunku. Setelah membaca beberapa artikel, ternyata likes ini dapat dari bot aplikasi. Tagar yang digunakan seperti men-trigger aplikasi tersebut dan seringnya menyukai beberapa foto sebelumnya. Fungsinya untuk menarik perhatianku sehingga ingin membuka profil yang menyukai fotoku. Biasanya mereka memiliki jumlah followers yang fantastis.

Selain meninggalkan jejak likes, kadang ada yang pura-pura mem-follow. Pura-pura karena setelah di-follow balik, biasanya mereka langsung unfollow. Taik banget, kan? Tapi mereka mengakui kalau aplikasi bot ini sangat membantu mereka menambah jumlah followers mereka dengan signifikan. Walaupun mereka sedang offline tapi akun mereka terlihat sangat aktif.

Setelah Instagram memblokir aplikasi-aplikasi bot seperti ini, foto yang kuunggah hanya dapat likes dari teman-temanku. Walaupun kadang ada dari orang-orang yang tidak kukenal, paling hanya 1 atau 2 orang. Tidak seperti dulu lagi. Tagar-tagar ini sudah tidak relevan lagi. Sebanyak apapun tagar yang kaucantumkan di fotomu, tidak akan ada bot lagi yang memanfaatkan tagar tersebut.

Entah ini langkah yang baik yang diambil Instagram atau tidak tapi beberapa orang pasti senang dapat likes walupun itu dari sebuah bot. Aku pikir sebaiknya Instagram perlu mencabut pemblokiran aplikasi-aplikasi ini. Tidak ada yang dirugikan, bahkan perlu buat mereka yang memiliki followers yang sedikit. Karena walaupun sedikit, ada yang menyukai foto-foto mereka.